Menu

4 Prinsip Program TJSL BUMN yang Perlu Disimak Baik-Baik

4 Prinsip Program TJSL BUMN yang Perlu Disimak Baik-Baik

Kita ketahui bersama bahwa program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BUMN memiliki peranan penting bagi masyarakat sekitar dan lingkungan. Program TJSL BUMN dilakukan secara sistematis dan terpadu untuk menjamin pelaksanaan dan pencapaian keberhasilan Program TJSL BUMN yang sesuai dengan prioritas dan/atau pencapaian dari tujuan Program TJSL BUMN yang berpedoman pada rencana kerja. Adapun 4 prinsip tersebut yakni,

  1. Terintegrasi, yaitu berdasarkan analisa risiko dan proses bisnis yang memiliki keterkaitan dengan pemangku kepentingan. Menurut pandangan beberapa pakar CSR menyatakan bahwa perusahaan menyadari bahwa TJSL/CSR bukan hanya sekedar menjaga reputasi perusahaan semata, namun juga menciptakan keberlanjutan ekonomi dengan melibatkan masyarakat ataupun stakeholder dalam kegiatan usahanya. Konsep CSR mulai dimodifikasi dengan sebuah konsep yang lebih menguntungkan, baik untuk perusahaan maupun masyarakat. Pengembangan dari konsep CSR yakni Creating Shared Value (CSV). CSV merupakan strategi bisnis yang menekankan pentingnya memasukkan masalah (isu sosial) dalam perancangan strategi perusahaan yang sesui dengan bisnis prosesnya.
    .
  2. Terarah, yaitu memiliki arah yang jelas untuk mencapai tujuan perusahaan. Hal ini dimaksudkan bahwa program TJSL/CSR harus sesuai dengan pilar utama perusahaan dalam meningkatkan image maupun brand perusahaan di masyarakat. Selain itu, adanya program TJSL mampu memberikan efisiensi bisnis dan meningkatkan profit secara berkelanjutan.
    .
  3. Terukur dampaknya, yaitu memiliki kontribusi dan memberikan manfaat yang menghasilkan perubahan atau nilai tambah bagi pemangku kepentingan dan perusahaan. Program TJSL/CSR harus terukur dampaknya, baik langsung maupun tidak langsung (melalui proses). Hal ini akan memberikan dampak yang terukur bernilai dan mampu menjadi bahan perncanangan kedepan. Adapun perangkat kerja yang dilakukan dalam pengukuran yakni social return on investment (SROI). SROI merupakan sebuah kerangka kerja (framework) yang mengukur dan menghitung perubahan dalam konsep nilai yang lebih luas. Ia mengurangi ketidaksetaraan (inequality), dan mengurangi degradasi lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan dengan menggabungkan dana dan manfaat dari aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi.
    .
  4. Akuntabilitas, yaitu dapat dipertanggungjawabkan sehingga menjauhkan dari potensi penyalahgunaan dan penyimpangan. Para pembuat kebijakan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap publik dan stakeholder terkait program TJSL yang dilaksanakan. Perusahaan tidak hanya melakukan program TJSL/CSR dalam bentuk kegiatan saja, namun kegiatan tersebut harus dilaporkan secara tertulis dan disebarluaskan. Hal ini mampu menjauhkan dari penyalahgunaan dan penyimpangan terhadap program yang dilaksanakan. Laporan tersebut harus dilaporkan perusahaan pada laporan tahunan beserta rincian biaya yang dikeluarkan. Pelaporan keberlanjutan dapat membantu perusahaan dalam mengukur, memahami, dan mengkomunikasikan kinerja ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka, dan kemudian menetapkan sasaran, dan mengelola perubahan secara lebih efektif. Perusahaan juga harus memperhatikan standar-standar dalam pelaporan CSR. Perusahaan dapat mengacu pada Global Reporting Initiative (GRI) untuk membuat laporan keberlanjutan (sustainability report) CSR dalam mengkomunikasikan kinerja dan dampak keberlanjutan – baik positif maupun negatif. (hmd)

 

Sumber: Peraturan Menteri BUMN No. 5 tahun 2021

Share this Post!

About the Author : SUN


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP
Open chat