Menu

CSR saat ini

CSR SAAT INI

CSR Illustration. Source: freepik.com

CSR saat ini ditandai dengan adanya inisiatif standar secara internasional dalam bentuk ISO, yaitu ISO 26000. ISO 26000 menyatakan bahwa corporate social responsibility adalah bentuk kepedulian sosial perusahaan yang saat ini menjadi aspek penting dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan, di samping isu kualitas (ISO 9000) dan lingkungan (ISO 14000). Secara garis besar, dalam ISO 26000 terdapat bagian-bagian yang meliputi 1) pendahuluan, 2) ruang lingkup, 3) referensi normatif, 4) istilah dan definisi, 5) konteks SR dalam keseluruhan operasi organisasi, 6) prinsip SR yang relevan pada organisasi, 7) bimbingan persoalan/isu utama SR, 8) bimbingan bagi organisasi mengenai implementasi SR, 9) lampiran, dan 10) bibliografi.

ISO 26000 adalah standar internasional untuk tanggung jawab sosial atau social responsibility (SR). Tanggung jawab organisasi atas dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari keputusan dan áktivitasnya pada masyarakat dan lingkungan melalui perilaku etis dan transparan dalam berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, seperti kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; memperhatikan ekspektasi pemangku kepentingan; menaati peraturan dan perundangan yang berlaku serta konsisten dengan norma perilaku internasional; dan terintegrasi dalam organisasi dan diimplementasikan pada seluruh aktivitas organisasi yang terkait dengan organisasi tersebut. Sejalan dengan ketentuan diterimanya New Work Item Proposal (NWIP) pada Januari 2005 maka standar tersebut sedapat mungkin memberikan pedoman bagi organisasi dalam mengarahkan pelaksanaan tanggung jawab sosialnya; menyediakan pedoman praktis yg berkaitan dengan pengoperasian social responsibility; identiñkasi dan keterkaitan dengan stakeholder, serta meningkatkan kredibilitas laporan dan klaim mengenai SR. Kategori stakeholder dalam perumusan ISO 26000 terbagi atas enam kelompok yaitu pemerintah, kalangan  industri, konsumen, lembaga swadaya masyarakat, karyawan, dan akademisi.

Bagaimana mengadopsi ISO 26000 dalam strategi perusahaan? Untuk mengadopsinya, perlu ditelaah isu-isu utama dalam ISO 26000. Ada tujuh isu utama ISO 26000 dalam merencanakan CSR, yaitu sebagai berikut.

  1. Tata kelola organisasi (kepatuhan pada hukum, akuntabilitas, transparansi,kode etik, pengenalan profil, dan minat stakeholder).
  2. Hak asasi manusia (hak sipil dan politik, hak sosial, ekonomi, budaya, dan kelompok rentan, serta hak dasar dalam kerja).
  3. Aktivitas tenaga kerja (pekerja dan hubungan antar-pekerja, kondisi kerja dan perlindungan sosial, dialog sosial, kesehatan dan keamanan kerja, serta sumber daya manusia).
  4. Lingkungan (preventif polusi, konsumsi berkelanjutan, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta proteksi dan restorasi lingkungan alam).
  5. Aktivitas operasi yang fair (anti korupsi dan anti suap, pelibatan tanggung jawab politik, kompetisi yang fair, promosi tanggung jawab sosial melalui rantai pasok, serta perhatian pada HAKI).
  6. Isu konsumen (marketing yang fair, praktik perjanjian, perlindungan keamanan dan kesehatan konsumen, provisi dan pengembangan produk dan jasa yang memberi manfaat sosial dan lingkungan, layanan konsumen, penyelesaian perselisihan, privasi dan perlindungan data konsumen, akses pada produk dan servis utama, konsumsi berkelanjutan, serta pendidikan dan kepedulian) Kontribusipada komunitas dan masyarakat (melibatkan komunitas, kontribusi pada pengembangan  ekonomi, dan  kontribusi  pada pengembangan sosial).

Dalam CSR, ada keterkaitan erat antara isu ISO 26000, rantai nilai perusahaan, dan stakeholder (pemangku kepentingan) dalam perencanaan CSR. Kontribusi terhadap komunitas dan masyarakat merupakan salah satu bentuk keterlibatan perusahaan dalam optimalisasi dampak kehadirannya di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan (meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif). Keterlibatan perusahaan terkait dengan kehadirannya dalam bentuk tanggung jawab  sosial perlu diintegrasikan dalam strategi bisnis  perusahaan, khususnya bidang kontribusi terhadap komunitas dan masyarakat. Hal ini menjadi penting karena membangun hubungan yang positif dengan stakeholder prioritas (stakeholder yang juga menjadi perhatian stakeholder lainnya) akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Untuk lebih rinci, dampak timbal balik antara perusahaan dengan stakeholder dapat dilihat sebagai berikut.

Share this Post!

About the Author : SUN


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP
Open chat