Menu
Jujur Mengukur Program dengan Metode SROI

Jujur Mengukur Program dengan Metode SROI

Jujur Mengukur Program dengan Metode SROI

 

Gambaran Umum SROI

Fenomena meningkatnya kesadaran masyarakat dunia mengenai berbagai dampak yang diciptakan oleh aktivitas perusahaan yang ada di sekitar mereka, telah mendorong meningkatnya keterlibatan organisasi, kreditur, dan pemerintah yang memberikan bantuan keuangan di sector ketiga, sehingga menimbulkan kebutuhan untuk mengukur keterciptaan triple bottom line (profit, person, and planet) dalam aktivitas perusahaan.

Investor pada organisasi nirlaba dan perusahaan saat ini menjadi lebih selektif dan spesifik mengenai dana yang mereka keluarkan untuk digunakan dalam melaksanakan suatu program yang diharapkan dapat menguntungkan semua pihak, baik itu bagi perusahaan, lingkungan dan juga masyarakat sekitar. Sejalan dengan hakikat keberadaan perusahaan dalam menjalankan bisnis, maka tujuan utamanya adalah untuk mencari keuntungan (profit). Dengan demikian, pelaksanaan CSR idealnya dimaknai sebagai wujud dari investasi sosial yang dilakukan oleh perusahaan, sehingga layaknya sebuah investasi haruslah dapat terukur dan diharapkan akan mendatangkan keuntungan di kemudian hari.

Jujur Mengukur Program dengan Metode SROI

 

Dengan kata lain, terdapat peningkatan kebutuhan   dan   permintaan   untuk memperhitungkan nilai sosial, ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan. Pemahaman dan pengelolaan konsep nilai yang lebih luas menjadi semakin penting bagi sektor publik dan swasta. Terkait dari tekanan sosial ini, kegiatan atau proyek yang dilaksanakan oleh perusahaan sebagian besar diukur dengan nilai finansial yang mereka ciptakan untuk perusahaan karena penciptaan nilai finansial sebenarnya adalah tujuan utama dari proyek yang dijalankan (Maldonado and Corbey, (n.d: 80)).

Pengambilan Data Primer ke Penerima Manfaat

Untuk dapat mewujudkan hal tersebut,maka dibutuhkan data yang lengkap, dapat dipercaya dan dapat diakses mengenai nilai sosial yang dicapai dengan menggunakan dana yang telah diinvestasikan. Sejalan dengan dinamika perkembangan aktivitas bisnis dalam masyarakat dunia, banyak perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan memperhatikan dampak sosial dan lingkungan yang diakibatkan oleh adanya aktivitas perusahaan di tengah kehidupan masyarakat. Jika dulu dalam dunia bisnis orang hanya mengenal Return on Investment (ROI), maka sekarang orang mulai mempertanyakan dampak sosial dari investasi yang dilakukan atau dikenal dengan istilah Social Return on Investment (SROI).

ROI digunakan dalam analisis keuangan dan dapat memberikan indikasi efisiensi investasi kepada  investor  dengan   membandingkan keuntungan dengan modal yang diinvestasikan. Oleh karena itu, dalam ROI memungkinkkan perbandingan opsi  inestasi  alternative berdasarkan    efisiensi.  ROI  hanya memperhitungakan nilai uang dan memiliki keterbatasan dalam akuntansi eksternalitas dan untuk investasi yang memajukan barang publik.

Eksternalitas dimaknai sebagai tindakan yang dilakukan oleh konsumen atau produsen yang memengaruhi konsumen atau produsen lain di mana produsen tidak membayar atau konsumen tidak diberi kompensasi. Adapun barang publik adalah barang yang dinikmati tidak hanya oleh satu konsumen yang memiliki akses tunggal ke mereka, tetapi yang bermanfaat bagi seluruh komunitas konsumen yang berbeda.

Faktanya di dunia nyata tidak ada aktivitas bisnis yang terbatas pada aspek ekonomi mikro saja, karena hal tersebut terdapat konsekuen yang mempengaruhi dimensi sosial, ekomomi dan lingkungan yang lebih luas (eksternalitas). Selain itu, banyak investasi yang diarahkan ke program-program dengan cakupan sosial dan lingkungan yang lebih luas secara eksplisit. Beberapa investor berkontribusi untuk mempromosikan barang publik dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan bersama bukan hanya untuk keuntungan individu ataupun pemegang saham.

Gagasan SROI muncul atas dasar bahwa investasi tidak hanya harus melihat nilai uang dari apa yang mereka hasilkan sebagai nilai shareholder langsung, tetapi harus mencakup berbagai manfaat yang lebih luas. SROI membandingkan nilai sekarang dari manfaat dengan hasil sekarang dari sumber daya yang diinvestasikan tetapi bertujuan untuk melakukannya dengan memperhitungkan seluruh rentang nilai yang dihasilkan.

The United Kingdom Office mendefinisikan SROI adalah kerangka kerja untuk mengukur dan menghitung konsep nilai yang jauh lebih luas yang berupaya mengurangi ketimpangan dan degradasi lingkungan dan meningkatan ksejahteraan dengan memasukkan biaya dan manfaat sosial, lingkungan dan ekonomi. Berikut ini adalah beberapa poin yang membedakan ROI dengan SROI, yaitu sebagai berikut:

No

Faktor Pendekatan ROI

Pendekatan SROI

1

Berarti

Mengacu pada rasio tunggal yang mencerminkan pengembaliaan keuangan

Mengacu bukan pada satu rasio tunggal tetapi lebih pada cara pelaporan penciptaan nilai yang mencerminkan triple bottom line dari suatu proyek

2

Menghitung Menghitung manfaat yang terukur / nyata

Mengukur aspek-aspek yang tidak berwujud dari proyek, seperti manfaat Kesehatan dan sebagainya, menggunakan harga shadow

3

Dasar Perhitungan

ROI mengukur hasil nyata suatu proyek

Basis penilainnya Sebagian untuk pengalaman dan persepsi para pemangku kepentingan

4

Unit Pengukuran

Diukur sebagai NPV atau tingkat pengembalian internal proyek

Diukur sebagai NPV dari manfaat sosial atau tingkat pengembalian ekonomi

5

Eksternalitas

Hanya mencakup factor internal suatu protyek

Termasuk faktor eksternal seperti dampak pada penerima manfaat, dll

6

Merit Wants Hanya menyertakan nilai transaksi

Menyertakan faktor-faktor prestasi tambahan seperti prestasi tambahan pendidikan, pembelajaran,  pelatihan pekerja, peningkatan standar hidup, dll. Analisis manfaat biaya sosial akan menambah poin positif untuk semua perolehan yang didapat dan meminimalisir poin negatif seperti buruknya etos kerja dll

7

Pajak dan Subsidi

Dibagikan sesuai dengan 14 prinsip GAAP dalam perhitungan

Pajak dan subsidi dianggap sebagai pembayaran transaksi dan tercermin sebagai pembayaran transfer

8

Ketidaksempurnaan Pasar

Tidak memperhitungkan ketidaksempurnaan pasar. Semua perhitungan dilakukan berdasarkan harga pasar

Memperhitungkan dampak ketidaksempurnaan pasar misalnya: katakanlah beberapa eksploitasi pekerja yang tidak dibayar penuh. Dalam perhitungan,akan dilakukan sesuai harga kesepakatan, namun dalam istilah sosial biaya tambahan akan dikeluarkan berkaitan dengan eksploitasi kebijakan tingkat upah,minimum

Pengertian SROI

Sebagai sebuah tools dalam pelaporan sosial (social report) yaitu untuk mengukur nilai finansial dari dampak program, Metode Social Return on Investment (SROI) akan membantu untuk mendapatkan nilai capaian finansial dari program yang dilaksanakan, baik yang berlaku pada penerima manfaat langsung maupun tidak langsung. Salah satu alasan perusahaan melakukan pelaporan sosial (social report) adalah untuk alasan strategis (Rusdin, 2016), sehingga perusahaan semakin menyadari pentingnya implementasi program CSR sebagai bagian dari strategi bisnisnya. Implikasi dari hal tersebut adalah semakin banyaknya perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi pertanggungjawaban sosial (corporate social responsibility/CSR) dalam laporan tahunannya.

Beberapa pendekatan konvensional biasanya digunakan untuk mengukur seberapa besar nilai yang dapat diciptakan oleh suatu program. Namun, sejauh ini pendekatan yang digunakan masih berorientasi pada output dari program tersebut dan bukan pada dampak yang dihasilkan. Orientasi yang semata-mata mendasarkan pada output akan kurang optimal dalam melihat nilai yang dapat diciptakan dari suatu program, karena esensinya suatu program akan dikatakan berhasil apabila dapat memberikan suatu perubahan yang positif bagi pihak penerima manfaat.

Hal inilah yang menjadikan semakin pentingnya penilaian terhadap dampak yang berorientasi pada outcome bukan pada output semata. SROI akan mendukung terwujudnya sustainable development karena setiap program akan diukur efektivitasnya dengan mengacu kepada dampak yang dihasilkan setelah program tersebut berjalan.

 

Prinsip SROI

Konsep SROI ini bukanlah konsep yang baru, dirintis di Amerika di awal tahun 1990, lalu dikembangkan di Inggris tahun 2008. Para ahli di Inggris (Nicholls et al, 2009: 9) mengajukan ada 7 prinsip SROI yang dapat digunakan dalam membangun kerangka kerjanya, yaitu:

  1. Libatkan stakeholder
  2. Pahami apa perubahannya,
  3. Nilai hal-hal yang penting
  4. Hanya memasukkan material yang jelas,
  5. Hindari klaim secara berlebihan
  6. Harus transparan
  7. Verifikasi hasilnya.

 

Perhitungan SROI

Proyeksi nilai diupayakan sedekat mungkin dan wajar, dengan memberikan asumsi-asumsi dan pemisalan terhadap hal-hal yang sejenis atau menggunakan ukuran serta standar harga yang berlaku di masyarakat sesuai dengan konteks program. Selanjutnya, data tersebut dianalisis untuk mendapatkan perhitungan nilai dampak, nilai kauangan dampak tersebut sampai memperoleh nilai present value, kemudian dilanjutkan dengan penghitungan nilai rasio SROI. Data yang diperoleh kemudian diolah sebagai berikut,

NPV =  [Present value of benefits] – [Value of investments]

SROI Ratio =  [Present Value] / [Value of Input]

Berdasarkan hasil perhitungan contoh program yang dilaksanakan bahwa diperoleh SROI Ratio sebesar 3,70 artinya bahwa setiap investasi Rp.1,- memperoleh dampak atau manfaat senilai Rp.3,70,. Bila ditinjau dari sisi sosial ekonomi, maka program tersebut dapat dikatakan layak dan berhasil.

 

Sumber:

Santoso MB, Adinegara R, Ismanto SU, Mumajad I, Mulyono H. 2018. Penilaian Dampak Investasi Sosial Pelaksanaan CSR Menggunakan Metode SROI. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan, Vol.3, No. 2. pp 153-167.

Santoso MB, Humaedi S, Raharjo ST, Bauw IZ. 2020. Social Return on Investment (SROI) pada Program Corporate Social Responsibility (CSR). Sumedang: Niaga Muda Press.

Share this Post!

About the Author : SUN


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP
Open chat