Menu

Sejarah CSR Dunia

Konsep CSR dimunculkan pertama kali tahun 1953, yaitu dengan diterbitkannya buku yang berjudul Social Responsibilities of Businessman karya Howard Bowen yang kemudian dikenal dengan “Bapak CSR”. Gema CSR makin bertiup kencang di tahun 1960-an ketika pérsoalan kemiskinan dan keterbelakangan makin mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Tahun 1987, The World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland Report mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity. Tahun 1992, KTT Bumi di Rio De Janeiro menegaskan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang didasarkan pada perlindungan lingkungan hidup serta pembangunan ekonomi dan sosial sebagai sesuatu yang mesti dilakukan semua pihak, termasuk perusahaan. Tahun 1998, konsep CSR semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21s Century Business (1998) karya John Elkington.Dia mengemas CSR dalam tiga fokus atau 3P, yang merupakan singkatan dari profit, planet, dan people.Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit), melainkan memiliki kepedulian pada kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Pada tahun 2002, World Summit Sustainable Development di Yohannesburg memunculkan konsep Social Responsibility yang  mengiringi  dua konsep sebelumnya,yaitu economicandenvironment sustainability. Tahun 2010, diberlakukan ISO 26000 yang merupakan suatu standar operasi dan norma pelaksanaan tanggung jawab sosial dari organisasi-organisasi, termasuk perusahaan yang terhimpun dalam Guidance on Social Responsibility.

Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak   tahun   1990-an.   Beberapa  perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (Corporate Social Activity) atau Aktivitas Sosial Perusahaan. Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual   aksinya mendekati konsep CSR yang  merepresentasikan bentuk “peran serta” dan “kepedulian” perusahaan terhadap aspek sosial  dan lingkungan. Melalui konsep investasi sosial perusahaan “seat belt”, sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada berbagai perusahaan nasional. Secara garis besar, perkembangan CSR dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tahun

Konsep CSR

1953 Ditebitkannya”Social Responsibilities of Businesman” karya Howard Bowen yang kemudian dikenal dengan Bapak CSR
1987 The World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Bruntland Report, mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth,enviromental protection, dan social equity.
1992 KTT Bumi di Rio De Janeiro menegaskan konsep

pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang didasarkan pada perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi dan sosial sebagai sesuatu yang mesti dilakukan semua pihak, termasuk perusahaan.

1998 Konsep CSR semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals With forks:The Triple Bottom Line in 21 Century Business (1998), karya John Elkington. Dia mengemas CSR dalam tiga fokus: 3P, singkatan dari profit, planet, dan

people.

2002 World Summit Sustainable Development di Yohannesburg memunculkan konsep Social Responsibility yang mengiringi dua konsep sebelumnya yaitu economic dan environment  sustainability.
2010 Diberlakukan ISO 26000 suatu standar operasi dan norma pelaksanaan tanggung jawab sosial dari organisasi-organisasi,termasuk perusahaan yang terhimpun dalamGuidance on Social Responsibility.

Sumber: Rachman dkk (Peneliti CSR)

Share this Post!

About the Author : SUN


0 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Related post

  TOP
Open chat